Jumat, 13 November 2015

Film "?" (Tanda Tanya) : Refleksi Toleransi Kehidupan


Genre: Drama
Sutradara : Hanung Bramantyo
Pemain : Revalina S. Temat, Reza Rahardian, Agus Kuncoro, Endhitha, Rio Dewanto, Hengky Solaeman
Tanggal Rilis : 7 April 2011


“ Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini.
Tapi di jalan setapaknya masing-masing.
Semua jalan setapak itu berbeda-beda.
Namun menuju ke arah yang sama.
Mencari suatu hal yang sama.
Dengan tujuan yang sama.
Yaitu : TUHAN”
-Rika
Film Tanda Tanya (?) adalah sebuah film drama yang sebagian besar di dominasi oleh perbedaan agama, kebudayaan dan ras. Realita kehidupan tidak bisa di pisahkan dari ketiga hal tersebut. Masing-masing harus bisa menghargai antara orang satu dengan yang lain, agama satu dengan yang lain, ras satu dengan yang lain. Lebih baik lagi, apabila semua itu bisa saling melengkapi dan hidup berdampingan secara rukun.
Dalam film ini, awalnya di ceritakan bahwa ada perkelahian yang di sebabkan karena adanya ejek-mengejek antaragama. Konflik-konfilk secara bergantian timbul di situ.
Berikut penjabaran tentang tokoh-tokohnya:

  1. Menuk (Revalina S. Temat)
    Seorang perempuan yang soleha dan cantik, istri dari Soleh. Cinta Menuk kepada suaminya begitu mendalam walaupun suaminya tidak memiliki pekerjaan. Menuk memilih Soleh daripada Hendra, anak dari Tan Kat Sun  yang keturunan Tionghoa, karena Soleh memeluk agama yang sama dengannya, yaitu Islam. Untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari, Menuk bekerja di restoran milik Tan Kat Sun
  2. Soleh (Reza Rahardian)
    Ia suami Menuk, belum punya pekerjaan, namun akhirnya diangkat sebagai Banser NU.
  3. Hendra (Rio Dewanto)
    Anak dari Tan Kat Sun. Sifatnya berbeda jauh dari ayahnya. Pikirannya tentang realitas kehidupan masih tertutup dan ia sedang dalam pencarian jati diri. Ia jatuh cinta pada Menuk, namun Menuk memilih untuk hidup dengan Soleh
  4. Tan Kat Sun (Hengky Solaeman)
    Ayah dari Hendra. Pemilik Chinese-Food Restaurant, dimana Menuk bekerja disitu. Menjunjung tinggi tolransi beragama.
  5. Rika (Endhita)
    Adalah janda dengan 1 orang putra. Ia pindah agama, namun tetap menijinkan putranya memeluk Islam
  6. Surya (Agus Kuncoro)
    Seorang pemuda yang  sedang berjuang meraih impian menjadi bintang film dengan memerankan peranan-peranan kecil. Surya menjadi pacar Rika setelah Rika bercerai dengan suaminya. Surya mengetahui jika  kondisi ini semakin memojokan  Rika pada posisi yang tidak menyenangkan di mata para tetangga sekitar. Walaupun seorang Muslim, Surya berhasil memerankan dengan baik beberapa peranan yang terkait dengan agama lain, termasuk menjadi Yesus pada acara  Jumat Agung di gereja.
Secara singkat kesan yang bisa dipetik dari film [?] ini ingin mengangkat proses pluralisme yang sering terjadi sehari-hari di Indonesia. Hanung harus diakui sebagai seorang sutradara muda yang cukup berani mengemas ide. Sebagai contoh, di awal film kita disuguhkan alur cerita yang terkesan disingkat dengan kehadiran tokoh Rika yang memilih jalan hidupnya untuk murtad sebagai muslimah ketika konflik rumah tangganya terjadi akibat si suami berpoligami. Terdapat dialog ketika Rika menjawab dengan emosi tinggi kepada lawan mainnya, Surya. “Aku cerai dari Mas Panji bukan karena menghianati kesucian pernikahan dan aku pindah agama bukan karena menghianati Tuhan!”. Dialog seperti ini kiranya cukup menarik karena tentunya akan mengundang banyak penafsiran, seakan-akan sebagai sebuah pembenaran dalam suatu sikap pilihan hidup.

Contoh lain misalnya, ketika Rika memulai menjalani hidupnya dengan agama barunya, Katholik. Dalam sebuah kesempatan kebaktian di gereja, Romo Gereja memberikan secarik kertas kepada seluruh jemaatnya untuk menuliskan,  “ Apa arti Tuhan buat dirimu?”. Bisa dibayangkan, seseorang yang baru berpindah agama tentunya belum memiliki konsep ke-Tuhanan seperti yang sesuai dengan agama barunya. Sekali lagi, film ini juga berani menampilkan keberanian ‘apa adanya’ yang mungkin saja benar-benar terjadi. Rika, dalam kertasnya yang dibacakan Romo menjawab, “ Tuhan itu adalah Allah. Ia Ar-Rahman, Maha Pengasih. Ar-Rahiim, Maha Penyayang, Al-Quddus, Maha Suci,….”. Kita dibuat ‘tersenyum’ dengan jawaban ‘kepolosan’ Rika. Bagi kalangan muslim, jawaban itu tentunya sudah cukup dimengerti dan dikenal dengan Asmaul Husna. Disinilah mungkin juga akan terjadi multitafsir dan kontroversi tanggapan dari berbagai kalangan. Dan tentunya sutradara dan penulis skenario bukan berarti tidak memperhitungkan sebelumnya.

Tokoh sentral dalam film ini sesungguhnya adalah Soleh, seorang lelaki pengangguran yang hidup dalam impiannya untuk menjadi seseorang yang berarti, termasuk menjadi pahlawan bagi istri dan kedua anaknya, namun belum mendapatkan jalan yang baik. Soleh akhirnya menjadi anggota banser NU. Pemilihan tokoh sentral yang diceritakan sebagai anggota Banser NU, dan sempet menuai protes dari Banser NU Cabang Kota Surabaya tampaknya bisa dikatakan cukup berlebihan. Dengan alasan, tanpa izin dan mendiskreditkan Banser dengan tokoh yang dangkal pengetahuannya. Jika ditangkap pesan sesungguhnya bukanlah demikian. Tokoh Soleh tersebut tetaplah seorang manusia biasa. Jika ada tokoh Banser terlihat ‘arogan’ dengan mengecam karakter tokoh Soleh kiranya perlu melihat film ini secara utuh. Tidak mengedepankan ‘ego’ yang terkesan memaksa pencitraan dari tokoh seorang Banser. Toh pada akhirnya sang tokoh utama ini diceritakan ‘mati syahid’ ketika berhasil membawa bom dari dalam gereja ketika menjaga sebuah gereja dalam malam perayaan natal. Walau sperti dibuat-buat, cerita ini diambil dari kejadian sebenarnya yang belum lama terjadi. Seoerang Banser gugur ketika  bom meledak dalam sebuah usaha pemboman jemaat gereja di satu daerah.

Dalam konfilik rumah tangga Soleh dengan Menuk (Revalina S. Temat), sebagai tokoh utama dalam film ini, menurut saya kalah menarik atau paling tidak menjadi seimbang dengan peran dari Rika dan Surya. Kehadiran konflik dan harmonisnya pertemanan mereka justru malah menghibur dan juga bisa menyeret perasaan penonton. Ketika Surya, memainkan seorang tokoh idola Santa Claus untuk menghibur anak yang sedang dirawat di rumah sakit, ada adegan yang menggelikan. Ketika Surya diminta bantuannya, ia menjawab “Insya Allah” Padahal saat itu sudah berpakaian sebagai Santa Claus.

Kisah konflik yang dimunculkan lainnya adalah gesekan-gesekan yang terjadi di dalam keluarga Tan Kat Sun (Hengky Sulaeman), istrinya Lim Giok Lie (Edmay) dan putra tunggalnya Ping Hen alias Hendra (Rio Dewanto). Mereka sebagai keluarga pemilik dan pengelola restoran yang menyajikan Chinese Food namun tetap berusaha menjaga kehalalan makanannya dengan memisahkan peralatan masaknya. Konflik intern keluarga terjadi ketika si putra tunggalnya menerapkan peraturan secara paksa tentang peraturan kerja di restorannya. Semua yang telah dirintis oleh papinya dirubah total dengan cara pandang anak muda yang ambisius dalam menjalankan bisnis tanpa memperhatikan tepo seliro bagi karyawan dan masyarkat sekitarnya. Digambarkan bagaimana saat keputusan yang diambil Hendra, membuka restoran dengan melepas tirai-tirai disaat bulan ramadhan berdampak negatif pada masalah sosio kultural. Toleransi beragama yang telah dipupuk dan dipelihara orangtuanya pupus seketika akibat kurang bijaknya Hendra mengelola usaha keluarganya itu. Namun dalam perjalanan yang disingkat itu, akhirnya Hendra banyak mendapatkan hikmah dan hidayah. Dan film ini ditutup dengan masuknya Hendra menjadi seorang muslim dengan mengucap dua kalimah syahadat. Disinipun, banyak pihak yang tentunya merasa kurang nyaman atas pilihan ending skenarionya. Bila dikaitkan dengan awal cerita tentang murtad-nya seorang Rika, kesan yang disodorkan justru sekedar penyeimbang saja. Atau untuk menutupi ‘lubang’ cerita agar tidak terjadi kontroversi yang lebih tajam nantinya.

Pro dan kontra kiranya tak bisa terhindari. Pluralisme dan toleransi beragama memang sangat ditonjolkan dalam tema film [?] ini. Jika ada pihak yang menilai bahwa di film ini terdapat pencampuradukkan realita dari banyaknya fakta yang terjadi dalam keseharian, kita pun tidak bisa mendebatnya. Sebab penilaian tentang sebuah karya seni sangat didominasi oleh latar belakang dan kekuatan pemahaman nilai-nilai dari setiap orang, yang pastinya juga sulit diseragamkan. Bukankah perbedaan, baik yang terjadi dalam film [?] dan penilaian ini juga bisa katakan sebuahrahmat? Terlalu jauh rasanya jika sampai menilai dengan menyaksikan film [?] bisa merubah keimanan dan keyakinan seseorang. Sejatinya keimanan dan keyakinan yang hakiki itu adalah dengan menyikapi segala sesuatu secara arif dan bijak, termasuk menyikapi sebuah film. Kejernihan hati akan menjadi cermin bagi jiwa yang bisa ikhlas menerima perbedaan.



Dari film itu, kita diajak untuk membuka pikiran kita, terutamanya tentang pluralitas dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
Mau tidak mau, kita harus membaur. Bukan saling hina dan cerca, melainkan melengkapi satu dengan yang lain.


1 komentar: