Dalam semarakmu itu majulah demi kebenaran, perikemanusiaan dan keadilan! Biarlah tangan kananmu mengajarkan engkau perbuatan-perbuatan yang dahsyat! (Maz 45:4)
Agama
bukan sebuah kreasi manusia, namun sistem kepercayaan menjadi kemudian
beragam. Agama memberikan ruang pembelajaran bagi manusia di dalam menggali
dasar-dasar nilai mendalam tentang kebijaksanaan, nilai-nilai luhur, dan
universalisme.
Agama
dikemas pada bingkai-bingkai kemanusiaan. Menghargai satu sama lain dan bukan
saling memaksakan kehendak dan pendapat. Sehingga harmonisasi tidak hanya
sebuah wacana publik namun pertanda terhadulu mengenai toleransi dalam
keberagaman.
Tidak
selayaknya kita, penganut agama apapun, terkotak-kotak pada pandangan saling
sinis berdasarkan subjektivitas belaka, dan pemahaman sempit tentang agama dan
golongan. Karena hal tersebut akan membatasi tindakan dan perilaku di dalam
berlaku sebagai manusia seutuhnya, yang hidup sebagai mahkluk sosial,
berkenalan bergaul dan berinteraksi dengan sesama. Agama bukan pijakan untuk
saling memisahkan manusia berdasrkan golongan. Agama adalah sarana
spiritualitas. adalah satu pandangan yang menggarisbawahi bahwa kebenaran
relatif dari manusia adalah hasil daripada perbedaan-perbedaan yang kemudian
menjadi dinamika.
Maka dari itu, untuk
merealisasikan “kehendak Tuhan”, manusia harus hidup seimbang dengan segala
aktivitasnya, agar tidak terjadi ketimpangan dan semakin merendahkan diri,
manusiawi, adil dan beradab.