Jumat, 11 Desember 2015

Bersukacitalah, Tuhan Sudah Dekat


Masa Adven merupakan masa yang mengingatkan kita bahwa hidup kita di dunia secara keseluruhan adalah masa penantian, akan perjumpaan kita dengan Kristus yang lebih penuh, saat kita beralih dari dunia ini. Dan karena Yang kita nantikan adalah Dia yang mengasihi kita dan kita kasihi, maka kita bersuka cita! Walau kita telah selalu menyambut-Nya dalam Ekaristi sepanjang tahun, namun hari Natal adalah hari yang dikhususkan untuk memperingati kedatangan-Nya ke dunia di hari kelahiran-Nya sekitar 2000 tahun yang lalu. Sebab kedatangan Sang Mesias itu sudah dinanti-nantikan oleh umat pilihan-Nya selama berabad-abad, dan telah dinubuatkan oleh para nabi. Maka dengan menantikan Dia saat ini, kita sesungguhnya mengambil bagian dalam penantian umat Allah, yang telah terjadi dahulu kala, sebelum kedatangan-Nya. Selain itu, kita pun tetap menantikan Dia yang akan datang kembali di akhir zaman.


Sukacita adalah tema yang kita rayakan hari ini, di hari Minggu Gaudete, Minggu pertengahan masa Adven. Gereja mengajak kita bersukacita, karena hari Natal sudah semakin dekat.Di Basilika Santo Petrus Vatikan, Paus Fransiskus membuka Pintu Suci, yang melambangkan Kristus sendiri yang adalah Sang Pintu (Yoh 10:9) yang melalui-Nya kita sampai kepada Allah Bapa. Dengan dibukanya Pintu Suci tersebut dan juga Pintu Suci di ketiga basilika lainnya di Roma dan di gedung-gedung katedral di seluruh dunia, kita dapat berziarah memasukinya dan mengalami belas kasih Tuhan. Belas kasih Allah ini secara istimewa kita terima, jika kita terlebih dahulu bertobat dan mengakui dosa-dosa kita dalam sakramen Tobat. Gereja memberikan indulgensi penuh kepada umat yang memenuhi persyaratannya, yaitu sebelum atau pada hari melalui Pintu Suci, ia menerima sakramen Tobat, menerima Ekaristi, berdoa bagi intensi Bapa Paus, dan memiliki pertobatan yang sungguh sehingga tidak lagi memiliki keterikatan dengan dosa apa pun. Paus menekankan bahwa kuasa belas kasihan Allah tidak mengecualikan siapa pun, dan dosa apa pun, asalkan orang tersebut mau bertobat dan kembali kepada Allah. Setelah mengalami belas kasih Allah dan pengampunan-Nya,  kita akan dapat sungguh bersukacita di dalam Dia.



Untuk menumbuhkan rasa syukur dan sukacita ini, memang kita perlu belajar dari Bunda Maria. Rahmat Tuhan yang tercurah padanya dan memenuhinya, memampukannya untuk senantiasa bersukacita, dalam situasi apa pun. Walau harus melakukan perjalanan jauh dengan mengendarai keledai dalam keadaan mengandung dan cuaca yang dingin. Walau tidak memperoleh tempat penginapan. Walau akhirnya melahirkan di kandang hewan. Walau kemudian harus mengungsi ke Mesir… dan seterusnya. Semua kesulitan tersebut dapat dilaluinya sebab di hatinya Bunda Maria memiliki sukacita sejati, yang datang dari persatuannya dengan Tuhan. Semoga di Minggu Gaudete ini, hati kita dipenuhi sukacita yang dari Tuhan, dan kita dibawa-Nya untuk menjadi semakin dekat dengan-Nya, sehingga kita pun dapat mengalami pengalaman seperti Bunda Maria. Semoga kita selalu bersukacita dalam menantikan Tuhan, dan tetap mengumandangkan pujian kepada-Nya, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bersukaria karena Allah Penyelamatku” (Luk 1:46).

Senin, 07 Desember 2015

Aku Bahagia, Apabila Karena Aku, Engkau Pun Bahagia : Proyek Kebaikan #2


Amsal 3 : 27
  Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya
Pada proyek kebaikan yang kedua ini, kami mengunjungi Panti Asuhan St. Thomas di Ungaran. Kami bertemu 8 anak asrama (anak panti) dan kurang lebih 7 anak titipan. Mereka semua adalah anak-anak sekolah dasar mulai kelas 1 SD hingga kelas 6 SD dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda.
Kami berdinamika sebentar bersama mereka. Mulai dari perkenalan, menonton video, menggambar dan mewarnai  hingga main gendong-gendongan bersama teman teman dari asrama. Dan diluar dugaan kami, mereka sangat antusias dengan kedatangan kami

  Tak hanya itu. Terkadang, ada konflik kecil diantara mereka. Konflik sepele, seperti pada anak-anak pada umumnya, sehingga membuat mereka menangis.
Kehadiran kami disana sungguh berarti bagi mereka dan tentu saja kami. Di sana kami berbagi atensi, kepedulian, kasih sayang yang di terima sangat baik dengan Suster dan juga teman-teman dari asrama.
  Menjadikan pengalaman bagi kami, bahwa kami juga patut bersyukur dengan apa yang sudah kami miliki, termasuk orangtua.

 
Aku bahagia, apabila karena aku, engkaupun bahagia